Didalam kehidupan
bermasyarakat adalah suatu hubungan antar individu-individu maupun antar kelompok
dan golongan yang terjadi dalam proses kehidupan. Hidup bermasyarakat juga
berarti kehidupan dinamis, dimana setiap anggota masyarakat salaing
berinteraksi, member dan menerima (take and give). Hubungan antar individu ini
pun diikat oleh ikatan yang berupa norma serta nilai-nilai yang telah dibuat
bersama para anggota. Norma dan nilai-nilai inilah yang menjadi alat pengendali
agar para anggota masyarakat tidak terlepas dari rel ketentuan yang telah
disepakati itu. Solidaritas, toleransi dan tenggang rasa adalah bukti kuatnya
ikatan itu. Sakit salah satu anggota masyarakat akan dirasakan oleh anggota
masyarakat lainnya. Dari hubungan seperti itulah lahir keharmonisan dalam hidup
bermasyarakat.
Pada kenyataannya tidak semua
masyarakat membentuk sebuah harmonisasi. Pada kondisi-kondisi tertentu hubungan
antara masyarakat diwarnai berbagai persamaan. Namun sering juga didapati
perbedaan-perbedaan, bahkan pertentangan dalam masyarakat. Hal-hal seperti
itulah yang menimbulkan perpecahan dalam masyarakat. Seperti contoh yang
terjadi konflik sosial di Provinsi Papua. Perang suku atau lebih tepat disebut
pertikaian antarsuku merupakan salah satu bentuk konflik yang lazim terjadi
dalam kehidupan di Papua, setidaknya sampai tahun 1987. Pada sepuluh tahun
belakangan ini, tampak ada gejala timbulnya pertikaian antarsuku dalam bentuk
yang lebih kompleks, sebagai contoh sebagaimana kejadian di Timika yang banyak
dimuat dalam berbagai berita mass media cetak maupun elektronik pada akhir
tahun 2006. Gejala timbulnya pertikaian antar suku-suku di Papua kini bukan
hanya akibat struktur sosial budaya setempat, melainkan bisa terjadi akibat
mengakarnya faham kago (ratu adil") yang secara psikologis membentuk
perilaku konflik ketimpangan pembangunan dan kehidupan sosial ekonomi. Analisis
konflik sosial dan penanganannya dibangun dari sebuah teori psikologi sosial
dengan pendekatan antropologi yang sederhana tetapi diperkuat dengan penjelasan
asal mula terjadinya perbedaan kepentingan yang dipersepsikan oleh pihak-pihak
yang berkonflik serta konsekuensinya terhadap pemilihan strategi penanganan
pertikaian. Hal ini didasarkan pada kerangka pikir tentang dampak kondisi
sosial budaya terhadap perilaku sosial.
Pada keadaan ini, seharusnya
masing-masing suku yang ada di Provinsi Papuan memiliki sebuah proses
penyesuaian di antara unsur-unsur yang saling berbeda dalam kehidupan
masyarakat, sehingga menghasilkan pola kehidupan masyarakat yang memilki
keserasian fungsi. Dengan adanya keserasian fungsi, maka akan terjalin hubungan
sosial yang saling menguntungkan dan harmonis.
No comments:
Post a Comment