I.
PENDAHULUAN
Pulau Sebatik adalah sebuah pulau di
sebelah timur laut Kalimantan utara.
Pulau tersebut merupakan pintu perbatasan antara Sabah (Malaysia) dengan Indonesia yang merupakan pintu gerbang Indonesia di Kalimantan, tepatnya di bagian utara Provinsi Kalimantan utara yang berbatasan langsung dengan Negeri Sabah Malaysia. Kota tawau di Sabah yang lebih maju dalam pertumbuhan ekonomi dan infrastruktur mengharuskan warga Sebatik menggantungkan kebutuhan hidupnya terhadap Malaysia yang secara geografis jarak tempuhnya lebih dekat, hanya dibutuhkan waktu sekitar 15 menit dari Sebatik . Di sisi lain, untuk menempuh kota terdekat di Indonesia yaitu kota Nunukan dibutuhkan waktu tempuh sekitar 60 menit hingga 90 menit dari Sebatik.
Pulau tersebut merupakan pintu perbatasan antara Sabah (Malaysia) dengan Indonesia yang merupakan pintu gerbang Indonesia di Kalimantan, tepatnya di bagian utara Provinsi Kalimantan utara yang berbatasan langsung dengan Negeri Sabah Malaysia. Kota tawau di Sabah yang lebih maju dalam pertumbuhan ekonomi dan infrastruktur mengharuskan warga Sebatik menggantungkan kebutuhan hidupnya terhadap Malaysia yang secara geografis jarak tempuhnya lebih dekat, hanya dibutuhkan waktu sekitar 15 menit dari Sebatik . Di sisi lain, untuk menempuh kota terdekat di Indonesia yaitu kota Nunukan dibutuhkan waktu tempuh sekitar 60 menit hingga 90 menit dari Sebatik.
II.
RUMUSAN
MASALAH
Hal terebut pada pendahuluan, secara tidak
langsung berdampak terhadap adanya dominasi dan pengaruh Malaysia yang
signifikan terhadap warga Pulau Sebatik Indonesia, sebagai berikut :
1. Fakta Ketergantungan Ekonomi Warga Sebatik
terhadap Malaysia;
2. Ikatan
Emosional yang Terbangun Antara Warga
Sebatik dan “sebagian” Warga Malaysia di Sabah oleh Kesamaan Kultur;
3.
Dominasi Arus
Informasi dari Malaysia;
4.
Ancaman
Keutuhan NKRI;
III.
PEMBAHASAN
Pulau Sebatik yang dikenal dengan sebuah
pulau di sebelah timur laut Kalimantan utara. Pulau tersebut merupakan pintu
perbatasan antara Sabah (Malaysia) dengan Indonesia yang merupakan pintu
gerbang Indonesia di Kalimantan, tepatnya di bagian utara Provinsi Kalimantan
utara yang berbatasan langsung dengan Negeri Sabah Malaysia. Kota tawau di
Sabah yang lebih maju dalam
pertumbuhan ekonomi dan infrastruktur mengharuskan warga Sebatik menggantungkan
kebutuhan hidupnya terhadap Malaysia yang secara geografis jarak tempuhnya
lebih dekat, hanya dibutuhkan waktu sekitar 15 menit dari Sebatik . Di sisi
lain, untuk menempuh kota terdekat di Indonesia yaitu kota Nunukan dibutuhkan
waktu tempuh sekitar 60 menit hingga 90 menit dari Sebatik. Hal tersebut secara
tidak langsung berdampak terhadap adanya dominasi dan pengaruh Malaysia yang
signifikan terhadap warga Pulau Sebatik Indonesia, sebagai berikut :
1. Fakta
Ketergantungan Ekonomi Warga Sebatik terhadap Malaysia
Kebutuhan Sandang, pangan dan papan
masyarakat Sebatik bisa dikatakan hampir 80% didatangkan dari Kota Tawau,
begitupun untuk menjual hasil mata pencaharian masyarakat Sebatik seperti biji
kakau, kelapa sawit dan ikan, warga sebatik akan berhubungan dengan kota Tawau,
sabah Malaysia untuk menjual hasil mata pencaharian mereka. Letak geografis
wilayah Kota Tawau dari Sebatik dengan jarak yang lebih dekat daripada wilayah
kota yang ada di Indonesia, seperti Kota Nunukan dan Kota Tarakan yang harus
ditempuh dalam waktu 1 jam hingga 3 jam, maka untuk pergi ke kota tawau hanya
membutuhkan waktu kurang lebih 15 menit dengan speed boat dan kurang
dari 30 menit bila ditempuh dengan perahu bermesin biasa, sehingga biaya
transportasi menuju ke Kota Tawau, Malaysia lebih murah dan efektif secara
waktu. Jadi, Malaysia secara ekonomi telah membantu roda perekonomian bagi
warga Sebatik untuk dapat hidup dan memenuhi kebutuhan sehari-hari.
2. Ikatan
Emosional yang Terbangun Antara Warga Sebatik dan “sebagian” Warga Malaysia di
Sabah oleh Kesamaan Kultur
Interaksi sosial dan kultur antara
masyarakat sebatik dan masyarakat kota tawau pun kerap terjadi. Hal ini terjadi
karena banyak keluarga dari warga Sebatik yang secara kultur mayoritas
merupakan suku bugis yang berasal dari Sulawesi selatan berdomisili di kota Tawau
dalam waktu yang lama, bahkan sebagian di antaranya sudah berstatus sebagai
warga Negara Malaysia. Suku bugis secara statistik memiliki jumlah yang besar
dan diperhitungkan secara populasi di wilayah tawau yang berpopulasi kurang
lebih 500.000 jiwa. Proses yang terus berlangsung ini secara tidak langsung
telah menumbuhkan ikatan emosional yang erat antar keluarga yang pada akhirnya
berubah menjadi ikatan emosional antara warga Negara di dua Negara yang berbeda
sehingga perbedaan nationality lambat laun terkikis sedikit demi sedikit.
3. Dominasi
Arus Informasi dari Malaysia
Pada umumnya, informasi yang
diperoleh warga Sebatik berasal dari Malaysia karena mudahnya akses untuk
mendapatkan informasi dari Malaysia, misalnya melalui tiga saluran TV Malaysia yang
secara langsung dapat dijangkau tanpa harus menggunakan alat bantuan seperti
Parabola atau Televisi (TV) kabel, sedangkan untuk saluran TV Indonesia
dibutuhkan alat bantu tersebut sehingga membutuhkan tarif berbayar yang tidak
dapat dinikmati oleh semua kalangan di Sebatik. Program TV di Malaysia yang
berisi program-program acara resmi, terutama pada chanel TV 1 dan TV 3 sangat
efektif dalam menambah wawasan dan informasi kebangsaan masyarakat sebatik
tentang Malaysia. Begitupun dengan radio, siaran radio dari Malaysia yang
bergelombang jauh, misalnya radio nasional Malaysia yang mengudara di Kuala
Lumpur dengan mudahnya masuk dan mendominasi siaran radio di Sebatik. Mengutip
kembali Azwar (2005: 14), “….sebagai sarana komunikasi, berbagai media massa
seperti televisi, radio, mempunyai pengaruh besar dalam pembentukan opini dan
kepercayaan orang. Adanya informasi baru mengenai sesuatu hal memberikan
landasan kognitif baru bagi terbentuknya sikap terhadap hal tersebut.
Pesan-pesan sugestif yang dibawa informasi tersebut, apabila cukup kuat, akan
memberi dasar afektif dalam mempersepsikan dan menilai sesuatu
hal sehingga terbentuklah arah sikap tertentu”. Dan hal ini lambat laun
telah membangun stigma positif warga Sebatik terhadap Malaysia dan membentuk
sikap pro Malaysia.
4. Ancaman
Keutuhan NKRI
Fakta ketergantungan ekonomi warga
Sebatik terhadap Malaysia, ikatan emosional yang terbangun antara warga Sebatik
dan warga Malaysia di kota tawau dan dominasi arus informasi dari Malaysia yang
secara terus menerus dan dalam jangka yang panjang menjadi sebuah ancaman
nirmiliter dalam konsepsi pertahanan Indonesia di masa yang akan datang, hal
ini secara nyata akan memancing bibit-bibit separatisme di kalangan warga dan
akan membentuk sikap loyalitas dan kecintaan warga terhadap Malaysia atau
dengan kata lain bernasionalisme Malaysia. Terkait faktor-faktor pembentukan
sikap tersebut, mengutip Azwar (2005: 14), menyatakan bahwa, “… individu
bersikap konformis atau searah dengan sikap orang orang yang dianggapnya
penting. Kecenderungan ini antara lain dimotivasi oleh keinginan untuk
berafiliasi dan keinginan untuk menghindari konflik dengan orang yang dianggap
penting tersebut”. Pada akhirnya pada titik klimaksnya nanti akan muncul
keinginan dari warga untuk melepaskan diri dari wilayah NKRI dan memilih untuk
menggabungkan diri (integrasi) atau melakukan eksodus ke Malaysia karena merasa
telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dan menjadi bagian dari Malaysia.
Hal ini sejalan dengan pendapat Dhurorudin Mash’ad (2004: 6) yang menyatakan
bahwa, “Nasionalisme (rasa kebangsaan) yakni setiap orang merasa sebagai
bagian integral bangsa. Dengan rasa kebangsaan, setiap diri akan merasa sebagai
bagian dari bangsa dan merasa bangga dengan statusnya itu”.
Berangkat dari ancaman di atas,
Sebagaimana yang telah terjadi sebelumnya di Kabupaten mahakam ulu, kalimantan
Timur yang warga dari 10 desa mengancam untuk bergabung dengan Malaysia
bergitupun halnya dengan warga 3 desa di nunukan, kalimantan utara yang
warganya pun telah melakukan eksodus dan perpindahan kewarganegaraan Malaysia,
maka dibutuhkan sebuah perhatian & penanganan khusus dan serius dari
pemerintah pusat dan pemerintah daerah untuk mengantisipasi ancaman tersebut
lewat pendekatan kesejahteraan (prosperity Approach) dan pemenuhan kebutuhan
terhadap warga di daerah perbatasan. Pendekatan Kesejahteraan dan pemenuhan
kebutuhan warga secara komprehensip dengan dibarengi dengan pembangunan
infrastruktur dan sarana roda ekonomi secara mandiri tanpa ketergantungan
terhadap Malaysia di perbatasan akan dapat menghambat laju hegemoni dan
dominasi Malaysia, sehingga terjadinya sebuah nationality building terhadap
warga perbatasan berupa kecintaan, kebanggaan, dan rasa satu kesatuan sebagai
bagian dari NKRI dan mereka pun dapat dengan lantang dan tegas menyatakan bahwa
NKRI harga mati.
IV.
KESIMPULAN
Dimanapun dan bagaimanapun kita sebagai
warga Negara Indonesia, haruslah kita menjaga wilayah dan kekayaan tanah air
Indonesia, artinya menjaga seluruh kekayaan alam yang terkandung di dalamnya.
Seperti warga di Pulau Sebatik, semangat kebersamaan yang tumbuh di masyarakat
perbatasan itu merupakan roh yang menumbuhkan rasa persatuan dan kesatuan yang
selalu siap menjaga dan mengamankan kedaulatan NKRI. Seperti yang terpampang di
tugu perbatasan Garuda Perkasa yang berdiri kokoh di Pulau Sebatik, Kabupaten
Nunukan, Kalimantan Utara, “NKRI Harga Mati”.