Walisongo (Sembilan Wali) yang dikenal
sebagai penyebar agama Islam di tanah Jawa pada abad ke-17. Mereka tinggal di
tiga wilayah penting pantai utara Pulau Jawa, yaitu Surabaya-Gresik-Lamongan di
Jawa Timur, Demak-Kudus-Muria di Jawa Tengah, dan Cirebon di Jawa Barat.
Kawasan ini adalah laluan perjalanan dari Surabaya ke Pati-Demak-Kudus-Malang-Surabaya. Walisongo adalah simbol penyebaran
Islam di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Peranan mereka sangat besar dalam
mendirikan Kerajaan Islam di Jawa, juga mempengaruhi kebudayaan masyarakat
serta dakwah.
Walisongo berarti
sembilan orang wali. Mereka adalah:
1. Maulana Malik Ibrahim
2. Sunan Ampel
3. Sunan Giri
4. Sunan Bonang
5. Sunan Dradjad
6. Sunan Kalijaga
7. Sunan Kudus
8. Sunan Muria
9. Sunan Gunung Jati
1. Maulana Malik Ibrahim
2. Sunan Ampel
3. Sunan Giri
4. Sunan Bonang
5. Sunan Dradjad
6. Sunan Kalijaga
7. Sunan Kudus
8. Sunan Muria
9. Sunan Gunung Jati
Kesemua wali ini tidak hidup dalam waktu yang sama tetapi mereka
mempunyai kaitan rapat seperti hubungan darah dan juga diantaranya adalah mempunyai
hubungan guru dan murid. Maulana Malik Ibrahim adalah yang tertua. Beliau
mempunyai anak yang dikenali sebagai Sunan Ampel. Sunan Giri pula adalah anak
saudara Maulana Malik Ibrahim yang bererti juga sepupu Sunan Ampel. Sunan
Bonang dan Sunan Drajad adalah anak kepada Sunan Ampel. Sunan Kalijaga pula
merupakan sahabat dan juga murid Sunan Bonang. Sunan Muria merupakan anak Sunan
Kalijaga. Sunan Kudus juga murid kepada Sunan Kalijaga. Sunan Gunung Jati
adalah sahabat para Sunan-Sunan yang lain kecuali Maulana Malik Ibrahim yang
terlebih dahulu meninggal dunia. Kesemua mereka tinggal di pantai utara Pulau
Jawa dari awal abad 15 hingga pertengahan abad 16 iaitu di tiga wilayah penting
(Surabaya-Gresik-Lamongan di Jawa Timur, Demak-Kudus-Muria di Jawa Tengah serta
Cirebon di Jawa Barat). Mereka adalah para intelektual yang menjadi pembaharu
masyarakat pada zamannya. Mereka mengenalkan berbagai bentuk peradaban baru
seperti dalam bentuk kesehatan, bercocok tanam, perniagaan, kebudayaan dan
kesenian, kemasyarakatan sehingga kepada pemerintahan. Pesantren Ampel Denta
dan Giri adalah dua institusi pendidikan paling penting di masa itu. Dari Giri,
peradaban Islam berkembang ke seluruh wilayah timur Nusantara. Sunan Giri dan
Sunan Gunung Jati bukan hanya ulama tetapi ia juga merupakan pemimpin
pemerintahan. Sunan Giri, Bonang, Kalijaga, dan Kudus adalah penyumbang karya
seni yang pengaruhnya masih terasa hingga ke hari ini. Sementara Sunan Muria
adalah pemimpin agama yang sangat rapat dengan rakyat jelata. Era Walisongo
adalah era berakhirnya dominasi Hindu-Budha dalam budaya Nusantara untuk
digantikan dengan kebudayaan Islam. Mereka adalah simbol penyebaran Islam di
Indonesia terutama di Pulau Jawa. Mereka mempunyai peranan penting seperti
Maulana Malik Ibrahim yang menempatkan diri sebagai "tabib" bagi
Kerajaan Hindu Majapahit; Sunan Giri yang dianggap oleh kolonialis sebagai
"paus dari Timur" serta Sunan Kalijaga telah mencipta karya kesenian
dengan menggunakan gaya dan cara yang dapat difahami oleh masyarakat Jawa
dengan tidak meninggalkan kebudayaan Hindu dan Budha.
Sejarah walisongo berkaitan dengan penyebaran Dakwah Islamiyah di
Tanah Jawa. Sukses gemilang perjuangan para Wali ini tercatat dengan tinta
emas.Dengan didukung penuh oleh kesultanan Demak Bintoro, agama Islam kemudian
dianut oleh sebagian besar manyarakat Jawa, mulai dari perkotaan, pedesaan,
dan pegunungan.Islam benar-benar menjadi agama yang mengakar. Para
wali ini mendirikan masjid, baik sebagai tempat ibadah maupun sebagai tempat
mengajarkan agama. Konon, mengajarkan agama di serambi masjid ini, merupakan
lembaga pendidikan tertua di Jawa yang sifatnya lebih demokratis. Pada masa
awal perkembangan Islam, sistem seperti ini disebut ”gurukula”, yaitu seorang
guru menyampaikan ajarannya kepada beberapa murid yang duduk di depannya,
sifatnya tidak masal bahkan rahasia seperti yang dilakukan oleh Syekh Siti
Jenar. Selain prinsip-prinsip keimanan dalam Islam, ibadah, masalah moral juga
diajarkan ilmu-ilmu kanuragan, kekebalan, dan bela diri. Sebenarnya Walisongo
adalah nama suatu dewan da’wah atau dewan mubaligh. Apabila ada salah seorang
wali tersebut pergi atau wafat maka akan segera diganti oleh walilainnya. Era
Walisongo adalah era berakhirnya dominasi Hindu-Budha dalam budaya Nusantara
untuk digantikan dengan kebudayaan Islam. Mereka adalah simbol penyebaran Islam
di Indonesia. Khususnya di Jawa. Tentu banyak tokoh lain yang juga berperan.
Namun peranan mereka yang sangat besar dalam mendirikan Kerajaan Islam di Jawa,
juga pengaruhnya terhadap kebudayaan masyarakat secara luas serta dakwah secara
langsung, membuat "sembilan wali" ini lebih banyak disebut dibanding
yang lain.
Kesembilan wali
ini mempunyai peranan yang sangat penting dalam penyebaran agama
Islam di pulau Jawa pada abad ke-15. Adapun peranan walisongo dalam penyebaran
agama Islam antara lain:
- Sebagai pelopor penyebarluasan agama Islam kepada masyarakat yang belum banyak mengenl ajaran Islam di daerahnya masing-masing.
- Sebagai para pejuang yang gigih dalam membela dan mengembangkan agama Islam di masa hidupnya.
- Sebagai orang-orang yang ahli di bidang agama Islam.
- Sebagai orang yang dekat dengan Allah SWT karena terus-menerus beribadah kepada-Nya, sehingga memiliki kemampuan yang lebih.
- Sebagai pemimpin agama Islam di daerah penyebarannya masing-masing, yang mempunyai jumlah pengikut cukup banyak di kalangan masyarakat Islam.
- Sebagai guru agama Islam yang gigih mengajarkan agama Islam kepada para muridnya.
- Sebagai kiai yang menguasai ajaran agama Islam dengan cukup luas.
- Sebagai tokoh masyarakat Islam yang disegani pada masa hidupnya. Berkat kepeloporan dan perjuangan wali sembilan itulah, maka agama Islam menyebar ke seluruh pulau Jawa bahkan sampai ke seluruh daerah di Nusantara
Beberapa catatan mengenai kesemua wali ini adalah sebagaimana
berikut:
1.
Maulana
Malik Ibrahim:
Maulana Malik Ibrahim, atau Makdum
Ibrahim As-Samarkandy diperkirakan lahir di Samarkand, Asia Tengah, pada paruh
awal abad 14. Beliau meninggal dunia pada tahun 1419. Dikenali juga sebagai
Syekh Magribi. "Kakek Bantal" adalah juga sebutan oleh penduduk Jawa.
Ia bersaudara dengan Maulana Ishak, ulama terkenal di Samudra Pasai yang juga
merupakan ayah dari Sunan Giri (Raden Paku). Ibrahim dan Ishak adalah anak dari
seorang ulama Persia bernama Maulana Jumadil Kubro, yang menetap di Samarkand.
Maulana Jumadil Kubro diyakini sebagai keturunan ke-10 dari Syayidina Husein
iaitu cucu Nabi Muhammad SAW. Selama tiga belas tahun sejak tahun 1379 Maulana
Malik Ibrahim pernah bermukim di Campa atau sekarang dikenali Kamboja
(Cambodia). Ia mempunyai seorang isteri dari putri raja dan mendapat dua orang
anak iaitu Raden Rahmat yang dikenal sebagai Sunan Ampel dan Sayid Ali Murtadha
atau Raden Santri. Pada tahun 1392 iaitu setelah merasakan puas berdakwah di
Kambodia, Maulana Malik Ibrahim berhijrah ke Pulau Jawa meninggalkan dengan
meninggalkan keluarganya. Terdapat beberapa versi yang menyatakan bahwa
kedatangannya disertai oleh beberapa orang. Daerah yang dituju bagi pertama
kali adalah Desa Sembalo, sebuah daerah yang masih berada dalam wilayah
kekuasaan kerajaan Majapahit. Desa Sembalo kini adalah daerah Leran kecamatan
Manyar iaitu sejauh 9 kilometer ke utara kota Gresik. Kegiatan pertama yang
dilakukannya ketika itu adalah berdagang dengan cara membuka warung. Warung itu
menyediakan keperluan harian dengan harga yang murah. Selain itu, beliau juga
menyediakan diri untuk mengobati pesakit yang memerlukan bantuan secara
percuma. Sebagai seorang tabib, ia pernah diundang untuk mengobati istri raja
yang berasal dari Campa. Kemungkinan juga permaisuri tersebut masih bersaudara
kepada istrinya. Selain itu, beliau yang juga dikenali sebagai Kakek Bantal
telah mengajar cara-cara baru bercocok tanam. Ia merangkul masyarakat bawahan
iaitu satu kasta yang disisihkan dalam masyarakat dan budaya Hindu. Misi
pertama beliau sangat berjaya untuk mencari tempat di hati masyarakat yang
ketika itu dilanda krisis ekonomi dan perang saudara. Sebelum meninggal dunia
pada tahun 1419, Maulana Malik Ibrahim sempat mendirikan tempat untuk
pembelajaran agama di Leran. Jenazahnya dimakamkan di Desa Gapura, Gresik, Jawa
Timur.
2.
Sunan Ampel:
Sunan Ampel adalah anak sulung Maulana
Malik Ibrahim. Nama asalnya adalah Raden Rahmat dan dilahirkan di Campa pada
1401 Masehi. Di daerah Ampel atau Ampel Denta, Surabaya (kota Wonokromo
sekarang) adalah tempatnya bermukim dan menyibarkan agama Islam. Sunan Ampel
datang ke Pulau Jawa pada tahun 1443 bersama adiknya iatu Sayid Ali Murtadho.
Sebelum ke Jawa pada tahun 1440, mereka singgah dahulu di Palembang. Setelah
tiga tahun di Palembang, mereka melabuh dan berhijrah ke daerah Gresik.
Seterusnya mereka ke Majapahit untuk menemui ibu saudaranya, seorang putri dari
Campa yang bernama Dwarawati. Ibu saudaranya ini telah dipersunting oleh salah
seorang raja Majapahit beragama Hindu bergelar Prabu Sri Kertawijaya. Sunan
Ampel menikah dengan putri seorang adipati di Tuban. Dari perkawinannya itu ia
dikurniakan beberapa orang anak lelaki dan perempuan. Diantaranya yang menjadi
penerus tugas-tugas dakwah adalah Sunan Bonang dan Sunan Drajad. Ketika
Kesultanan Demak iaitu 25 kilometer arah selatan kota Kudus hendak didirikan,
Sunan Ampel turut bersama mendirikan kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa. Pada
tahun 1475, Sunan Ampel telah mengesyurkan supaya Raden Fatah iaitu anak lelaki
Prabu Brawijaya V (Raja Majapahit) untuk menjadi Sultan Demak.
Di Ampel Denta, daerah yang dihadiahkan oleh Raja Majapahit, ia membangun dan mengembangkan pondok pesantren. Pada pertengahan Abad 15, pesantren tersebut menjadi pusat pendidikan yang sangat berpengaruh di Nusantara. Di antara para santrinya adalah Sunan Giri dan Raden Fatah. Para santri tersebut kemudian berdakwah ke berbagai pelosok di Pulau Jawa dan Madura. Sunan Ampel menganut fikih mahzab Hanafi. Namun, pada para santrinya, ia hanya memberikan pengajaran sederhana yang menekankan akidah dan ibadah. Beliaulah yang mengenalkan istilah "Moh Limo" iaitu satu istilah dalam bahasa Jawa yang dimaksudkan sebagai "Tidak Mahu Lima Perkara" iaitu moh main (tidak bermain judi), moh ngombe (tidak meminum minuman keras), moh maling (tidak mencuri), moh madat (tidak mengguna dadah dan narkotik) dan moh madon (tidak berzina). Sunan Ampel meninggal dunia dan disemadikan di sebelah barat Masjid Ampel, Surabaya pada tahun 1481.
Di Ampel Denta, daerah yang dihadiahkan oleh Raja Majapahit, ia membangun dan mengembangkan pondok pesantren. Pada pertengahan Abad 15, pesantren tersebut menjadi pusat pendidikan yang sangat berpengaruh di Nusantara. Di antara para santrinya adalah Sunan Giri dan Raden Fatah. Para santri tersebut kemudian berdakwah ke berbagai pelosok di Pulau Jawa dan Madura. Sunan Ampel menganut fikih mahzab Hanafi. Namun, pada para santrinya, ia hanya memberikan pengajaran sederhana yang menekankan akidah dan ibadah. Beliaulah yang mengenalkan istilah "Moh Limo" iaitu satu istilah dalam bahasa Jawa yang dimaksudkan sebagai "Tidak Mahu Lima Perkara" iaitu moh main (tidak bermain judi), moh ngombe (tidak meminum minuman keras), moh maling (tidak mencuri), moh madat (tidak mengguna dadah dan narkotik) dan moh madon (tidak berzina). Sunan Ampel meninggal dunia dan disemadikan di sebelah barat Masjid Ampel, Surabaya pada tahun 1481.
3.
Sunan Giri:
Sunan Giri lahir di Blambangan pada
tahun 1442. Memiliki beberapa nama panggilan iaitu Raden Paku, Prabu Satmata,
Sultan Abdul Faqih, Raden 'Ainul Yaqin dan Joko Samudra. Ia dimakamkan di desa
Giri, Kebomas, Gresik. Terdapat beberapa silsilah Sunan Giri yang berbeza. Ada
pendapat mengatakan ia adalah anak Maulana Ishaq, seorang mubaligh yang datang
dari Asia Tengah. Maulana Ishaq diceritakan menikah dengan Dewi Sekardadu,
iaitu putri dari Menak Sembuyu, penguasa wilayah Blambangan pada masa-masa
akhir kekuasaan Majapahit. Pendapat lainnya menyatakan bahwa Sunan Giri juga
merupakan keturunan Rasulullah SAW iaitu melalui keturunan Husain bin Ali, Ali
Zainal Abidin, Muhammad al-Baqir, Ja'far ash-Shadiq, Ali al-Uraidhi, Muhammad
al-Naqib, Isa ar-Rummi, Ahmad al-Muhajir, Ubaidullah, Alwi Awwal, Muhammad
Sahibus Saumiah, Alwi ats-Tsani, Ali Khali' Qasam, Muhammad Shahib Mirbath,
Alwi Ammi al-Faqih, Abdul Malik (Ahmad Khan), Abdullah (al-Azhamat) Khan, Ahmad
Syah Jalal (Jalaluddin Khan), Jamaluddin Akbar al-Husaini (Maulana Akbar),
Maulana Ishaq, dan 'Ainul Yaqin (Sunan Giri). Umumnya pendapat tersebut adalah
berdasarkan riwayat pesantren-pesantren Jawa Timur dan catatan nasab Sa'adah
BaAlawi Hadramaut. Sunan Giri merupakan anak dari Maulana Ishaq, seorang
mubaligh Islam dari Asia Tengah, dengan Dewi Sekardadu, putri Menak Sembuyu
penguasa wilayah Blambangan pada masa-masa akhir Majapahit. Namun kelahirannya
dianggap telah membawa kutukan berupa wabak penyakit di wilayah tersebut. Ia
dipaksa untuk membuang anaknya, Dewi Sekardadu dengan menghanyutkannya ke laut.
Kemudiannya, bayi tersebut dijumpai oleh sekelompok awak kapal (pelaut) dan
dibawa ke Gresik. Di Gresik, dia diadopsi oleh seorang saudagar perempuan
pemilik kapal iaitu Nyai Gede Pinatih dan dinamakan bayi tersebut sebagai Joko
Samudra. Ketika dewasa, Joko Samudra dibawa ibunya ke Surabaya untuk belajar
agama kepada Sunan Ampel. Apabila Sunan Ampel mengetahui latar belakang murid
kesayangannya ini maka ia dihantar kepada Makdhum Ibrahim (Sunan Bonang), untuk
mendalami ajaran Islam di Pasai. Mereka diterima oleh Maulana Ishaq yang tidak
lain adalah ayah Joko Samudra. Di sinilah, Joko Samudra, yang ternyata bernama
Raden Paku, mengetahui asal usul dan alasan mengapa dia dulu dibuang. Setelah
tiga tahun berguru kepada ayahnya, Raden Paku atau lebih dikenal dengan Raden
'Ainul Yaqin kembali ke Jawa. Ia kemudian mendirikan sebuah pesantren giri di
sebuah perbukitan di desa Sidomukti, Kebomas. Dalam bahasa Jawa, giri berarti
gunung. Sejak itulah, ia dikenal masyarakat dengan sebutan Sunan Giri.
Pesantren Giri kemudian menjadi terkenal sebagai salah satu pusat penyebaran
agama Islam di Jawa, bahkan pengaruhnya sampai ke Madura, Lombok, Kalimantan,
Sulawesi, dan Maluku. Pengaruh Giri terus berkembang sampai menjadi kerajaan
kecil yang disebut Giri Kedaton, yang menguasai Gresik dan sekitarnya selama
beberapa generasi sampai akhirnya ditumbangkan oleh Sultan Agung.
Terdapat beberapa karya seni tradisional Jawa yang sering dianggap mempunyai hubungkait dengan Sunan Giri, diantaranya adalah permainan-permainan anak seperti Jelungan, Lir-ilir dan Cublak Suweng serta beberapa gending (lagu instrumental Jawa) seperti Asmaradana dan Pucung.
Terdapat beberapa karya seni tradisional Jawa yang sering dianggap mempunyai hubungkait dengan Sunan Giri, diantaranya adalah permainan-permainan anak seperti Jelungan, Lir-ilir dan Cublak Suweng serta beberapa gending (lagu instrumental Jawa) seperti Asmaradana dan Pucung.
4.
Sunan
Bonang:
Beliau adalah anak Sunan Ampel yang
juga cucu Maulana Malik Ibrahim. Nama kecilnya adalah Raden Makdum Ibrahim.
Dilahirkan pada tahun 1465. Ibunya bernama Nyi Ageng Manila, seorang puteri
adipati di Tuban. Sunan Bonang belajar agama dari pesantren ayahnya di Ampel
Denta. Setelah dewasa, ia berkelana untuk berdakwah di berbagai pelosok Pulau
Jawa. Mula-mula ia berdakwah di Kediri, yang majoriti masyarakatnya beragama
Hindu. Di sana ia mendirikan Masjid Sangkal Daha. Ia kemudian menetap di
Bonang, di sebuah desa kecil di Lasem, Jawa Tengah sejauh 15 kilometer ke timur
kota Rembang. Di desa itu ia membangun tempat pesujudan, zawiyah atau pesantren
yang kini dikenali dengan nama Watu Layar. Ia kemudian dikenal pula sebagai
imam resmi pertama Kesultanan Demak, bahkan sempat menjadi panglima tertinggi.
Meskipun demikian, Sunan Bonang tidak pernah menghentikan kebiasaannya untuk berkelana
ke daerah-daerah terpencil dan sukar untuk didakwahkan seperti di Tuban, Pati,
Madura dan sehingga ke Pulau Bawean. Pada tahun 1525 beliau meninggal dunia di
Pulau Bawean. Jenazahnya dimakamkan di Tuban iaitu di sebelah barat Masjid
Agung. Sebelumnya, masyarakat Bawean dan Tuban telah berebutan jenazah. Sunan
Bonang tidak seperti Sunan Giri yang memfokuskan fikih, ajaran Sunan Bonang
memadukan ajaran ahlussunnah bergaya tassauf dan garis salaf ortodoks. Ia
menguasai ilmu fikih, usuludin, tassauf, seni, sastra dan arkitektur.
Masyarakat juga mengenal Sunan Bonang sebagai seorang yang mahir mencari sumber
air di tempat-tempat gersang. Ajaran Sunan Bonang berintikan pada filsafah
'cinta' ('isyq). Ia sangat mirip dengan kecenderungan Jalalludin Rumi. Mengikut
Sunan Bonang, cinta bersama iman, pengetahuan intuitif iaitu makrifat dan
kepatuhan kepada Allah SWT atau haq al yaqqin. Ajaran tersebut disampaikannya
secara popular melalui media kesenian yang disukai masyarakat. Dalam hal ini,
Sunan Bonang bekerjasama dan bersama dengan Sunan Kalijaga iaitu murid
kesayangannya. Sunan Bonang banyak melahirkan karya sastra berupa suluk atau
tembang tamsil. Salah satunya adalah "Suluk Wijil" yang banyak
dipengaruhi kitab Al Shidiq karya Abu Sa'id Al Khayr (wafat pada 899). Suluknya
banyak menggunakan tamsil cermin, bangau atau burung laut. Sebuah pendekatan
yang juga digunakan oleh Ibnu Arabi, Fariduddin Attar, Rumi serta Hamzah
Fansuri. Sunan Bonang juga menggubah gamelan Jawa yang saat itu kental dengan
estetika Hindu, dengan memberi gaya dan nafas baru. Dialah yang menjadi
pencipta gamelan Jawa seperti sekarang, dengan menambahkan instrumen bonang.
Gubahannya ketika itu memiliki dzikir yang mendorong kecintaan pada kehidupan
alam malakut. Salah satu karya Sunan Bonang adalah "Tombo Ati". Dalam
pentas wayang kulit, Sunan Bonang adalah dalang yang sangat digemari
penontonnya. Kegemarannya adalah menggubah lakon dan memasukkan tafsir-tafsir
khas Islam. Kisah perseteruan Pandawa-Kurawa ditafsirkan oleh Sunan Bonang
sebagai peperangan antara penafian dan 'isbah atau peneguhan iman.
5.
Sunan
Drajad:
Sunan Drajat dilahirkan pada tahun
1470. Namanya semasa kecil adalah Raden Qasim, kemudiannya digelar Raden
Syarifudin. Dia yang terkenal dengan kecerdasannya adalah anak dari Sunan Ampel
dan bersaudara dengan Sunan Bonang. Sunan Drajat mendirikan pesantren Dalem
Duwur di desa Drajat, Paciran, Lamongan. Setelah menguasai pelajaran dalam
bidang agama islam, beliau menyebarkannya di desa Drajad di kecamatan Paciran.
Tempat ini diberikan oleh kerajaan Demak. Ia digelar Sunan Mayang Madu oleh
Raden Patah pada tahun 1442/1520 masehi. Makam Sunan Drajat boleh ditemui atau
dilawati dari Surabaya ataupun Tuban melalui Jalan Dandeles (Anyer -
Panarukan), dan boleh juga melalui Lamongan.
Setelah pelajaran Islam dikuasai, beliau mengambil tempat di Desa Drajat wilayah Kecamatan Paciran Kabupaten Daerah Tingkat II Lamongan sebagai pusat kegiatan dakwahnya. Beliau menguasai kerajaan Demak selama 36 tahun. Sebagai Wali penyebar Islam yang terkenal, beliau sangat perihatin dengan rakyat miskin dengan terlebih dahulu mengusahakan kesejahteraan sosial dan seterusnya memberikan pemahaman tentang ajaran Islam. Motivasinya lebih ditekankan pada etos kerja keras, menderma dan sedekah bagi membenteras kemiskinan dan menciptakan kemakmuran. Usahanya kearah itu menjadi lebih mudah kerana Sunan Drajat memperoleh kekuasaan untuk mengatur wilayahnya yang mempunyai otonomi. Sebagai penghargaan atas segala usaha dan kejayaannya menyebarkan agama Islam dan usahanya membasmi kemiskinan dengan menciptakan kehidupan yang makmur bagi warganya, beliau diberi gelaran Sunan Mayang Madu dari Raden Patah, Sultan Demak I pada tahun 1442 atau 1520 Masehi.
Setelah pelajaran Islam dikuasai, beliau mengambil tempat di Desa Drajat wilayah Kecamatan Paciran Kabupaten Daerah Tingkat II Lamongan sebagai pusat kegiatan dakwahnya. Beliau menguasai kerajaan Demak selama 36 tahun. Sebagai Wali penyebar Islam yang terkenal, beliau sangat perihatin dengan rakyat miskin dengan terlebih dahulu mengusahakan kesejahteraan sosial dan seterusnya memberikan pemahaman tentang ajaran Islam. Motivasinya lebih ditekankan pada etos kerja keras, menderma dan sedekah bagi membenteras kemiskinan dan menciptakan kemakmuran. Usahanya kearah itu menjadi lebih mudah kerana Sunan Drajat memperoleh kekuasaan untuk mengatur wilayahnya yang mempunyai otonomi. Sebagai penghargaan atas segala usaha dan kejayaannya menyebarkan agama Islam dan usahanya membasmi kemiskinan dengan menciptakan kehidupan yang makmur bagi warganya, beliau diberi gelaran Sunan Mayang Madu dari Raden Patah, Sultan Demak I pada tahun 1442 atau 1520 Masehi.
6.
Sunan
Kalijaga:
Sunan Kalijaga adalah "wali"
yang paling banyak disebut oleh masyarakat Jawa. Dilahirkan pada tahun 1450
dari bapanya yang bernama Arya Wilatikta iaitu Adipati Tuban berketurunan dari
tokoh pemberontak Majapahit, Ronggolawe. Ketika itu Arya Wilatikta telah
menganut agama Islam. Nama semasa kecil Sunan Kalijaga adalah Raden Said. Ia
juga memiliki sejumlah nama panggilan seperti Lokajaya, Syekh Malaya, Pangeran
Tuban atau Raden Abdurrahman. Terdapat berbagai versi mengenai asal-usul nama
Kalijaga yang digunakannya. Masyarakat Cirebon berpendapat bahwa nama itu
berasal dari dusun Kalijaga di Cirebon. Sunan Kalijaga memang pernah bermukim
di Cirebon dan bersahabat erat dengan Sunan Gunung Jati. Kalangan Jawa
mengaitkannya dengan kesukaan wali ini untuk berendam di sungai (kali) atau
"jaga kali". Namun ada yang menyebut istilah itu berasal dari bahasa
Arab "qadli dzaqa" yang menunjukkan statusnya sebagai "penghulu
suci" kesultanan. Semasa hidupnya Sunan Kalijaga mencapai umur lebih dari
100 tahun. Dengan demikian ia mengalami masa akhir kekuasaan Majapahit yang
berakhir pada tahun 1478, Kesultanan Demak, Kesultanan Cirebon dan Banten,
bahkan juga Kerajaan Pajang yang lahir pada 1546 serta awal kehadiran Kerajaan
Mataram dibawah pimpinan Panembahan Senopati. Ia ikut pula merancang
pembangunan Masjid Agung Cirebon dan Masjid Agung Demak. Tiang
"tatal" (pecahan kayu) yang merupakan salah satu dari tiang utama
masjid adalah kreasi Sunan Kalijaga. Dalam dakwah, ia mempunyai pola yang sama
dengan Sunan Bonang, mentor yang juga sahabat karibnya. Fahaman keagamaannya
cenderung kepada "sufistik salaf" dan bukan sufi panteistik iaitu
pemujaan semata. Ia juga memilih kesenian dan kebudayaan sebagai cara untuk
berdakwah dan sangat bersesuaian dengan budaya tempatan. Ia berpendapat bahwa
masyarakat akan menjauhkan diri jika diserang dengan pendirian dan pegangannya.
Maka mereka harus didekati secara beransur-ansur iaitu mengikuti sambil
mempengaruhi. Sunan Kalijaga berkeyakinan jika Islam sudah difahami, dengan
sendirinya kebiasaan lama akan hilang. Maka ajaran Sunan Kalijaga sangat
berkesan. Ia menggunakan seni ukir, wayang, gamelan, serta seni suara suluk
sebagai cara berdakwah. Dialah pencipta Baju takwa, perayaan sekatenan, grebeg
maulud, Layang Kalimasada, lakon wayang Petruk Jadi Raja. Lanskap pusat kota berupa
Kraton dan masjid diyakini sebagai karya Sunan Kalijaga. Cara berdakwah
tersebut sangat efektif. Sebagian besar adipati di Jawa memeluk Islam melalui
Sunan Kalijaga. Di antaranya adalah Adipati Padanaran, Kartasura, Kebumen,
Banyumas, serta Pajang (sekarang dikenali Kotagede Yogya). Jenazah Sunan
Kalijaga dimakamkan di Kadilangu iaitu di selatan Demak.
7.
Sunan
Gunung Jati:
Sunan Gunong Jati dilahirkan pada
tahun 1448. Ibunya adalah Nyai Rara Santang iaitu putri dari raja Pajajaran,
Raden Manah Rarasa. Ayahnya pula adalah Sultan Syarif Abdullah Maulana Huda,
pembesar Mesir berketurunan Bani Hasyim dari Palestin. Syarif Hidayatullah
mendalami ilmu agama sejak berusia 14 tahun dari para ulama Mesir. Ia sempat
berkelana ke berbagai negara. Setelah berdirinya Kesultanan Bintoro di Demak,
dan atas restu kalangan ulama lain, ia mendirikan Kasultanan Cirebon yang juga
dikenal sebagai Kasultanan Pakungwati. Begitupun banyak kisah yang tidak
munasabah yang telah dikaitkan dengan Sunan Gunung Jati. Diantaranya adalah
bahwa ia pernah mengalami perjalanan spiritual seperti Isra' Mi'raj dan bertemu
dengan Rasulullah SAW, bertemu Nabi Khidir dan menerima wasiat Nabi Sulaeman.
Semuanya hanya mengisyaratkan kekaguman masyarakat masa itu pada Sunan Gunung
Jati. Sunan Gunung Jati adalah satu-satunya "wali songo" yang
memimpin pemerintahan. Sunan Gunung Jati menggunakan pengaruhnya sebagai putra
Raja Pajajaran untuk menyebarkan agama Islam dari pesisir Cirebon ke pedalaman
Pasundan atau Priangan. Dalam berdakwah, ia menganut kecenderungan Timur
Tengah. Namun ia juga mendekati rakyat dengan membangunkan infrastruktur
seperti jalan-jalan yang menghubungkan antara wilayah. Bersama dengan anaknya
yang bernama Maulana Hasanuddin, Sunan Gunung Jati juga melakukan ekspedisi ke
Banten. Beliau diterima sebagai bakal Kesultanan Banten. Sebaliknya pada usia
89 tahun, Sunan Gunung Jati mengundurkan diri dari jawatan yang dipegangnya dan
hanya ingin meneruskan dakwah sahaja. Kekuasaan itu diserahkannya kepada
Pangeran Pasarean. Pada tahun 1568 Sunan Gunung Jati meninggal dunia di Cirebon
pada usia 120 tahun. Ia dimakamkan di daerah Gunung Sembung, Gunung Jati, 15
kilometer sebelum memasuki kota Cirebon dari arah barat.
8.
Sunan
Kudus:
Namanya senasa kecil adalah Jaffar
Shadiq. Beliau adalah anak dari pasangan Sunan Ngudung dan Syarifah iaitu adik
Sunan Bonang, anak Nyi Ageng Maloka. Disebutkan bahwa Sunan Ngudung adalah
salah seorang putra Sultan di Mesir yang berkelana hingga di Jawa. Di
Kesultanan Demak, ia pun diangkat menjadi Panglima Perang. Sunan Kudus banyak
berguru pada Sunan Kalijaga. Kemudian ia berkelana ke berbagai daerah tandus di
Jawa Tengah seperti Sragen, Simo hingga ke Gunung Kidul. Cara berdakwahnya juga
meniru pendekatan Sunan Kalijaga yang sangat toleran pada budaya setempat. Cuma
cara penyampaiannya lebih halus. Inilah yang menyebabkan para wali yang lain
meminta beliau berdakwah ke Kudus yang dikatakan sangat sukar untuk ditembusi.
Gaya dan caraa Sunan Kudus mendekati masyarakat Kudus adalah dengan
memanfaatkan simbol-simbol Hindu dan Budha. Hal ini dapat dilihat dari
arkituktur masjid Kudus. Bentuk menara, gerbang dan pancuran untuk berwudhu
yang melambangkan delapan jalan Budha iaitu satu pendekatan dan kompromi oleh
Sunan Kudus. Suatu ketika ia memancing masyarakat untuk pergi ke masjid
mendengarkan dakwahnya dengan cara ia sengaja menambatkan lembunya yang diberi
nama Kebo Gumarang di halaman masjid. Penganut Hindu sangat mengagungkan lembu,
menjadi simpati. Apalagi setelah mereka mendengar penjelasan Sunan Kudus
tentang surat Al-Baqarah yang bererti "Lembu Betina". Sehingga kini,
sebahagian masyarakat tradisional Kudus, masih menolak untuk menyembelih lembu.
Sunan Kudus juga menggubah cerita-cerita ketauhidan. Kisah tersebut disusunnya
secara bersiri, sehingga masyarakat tertarik untuk mengikuti kisah selanjutnya.
Inilah satu pendekatan yang nampaknya seperti memasukkan cerita 1001 malam dari
Khalifah Abbasiyah. Begitulah cara Sunan Kudus mengikat masyarakat. Sebagaimana
ayahnya, ia juga pernah menjadi Panglima Perang Kesultanan Demak. Ia ikut sama
berperang di Demak diantara Sultan Prawata melawan Adipati Jipang iaitu Arya
Penangsang.
9.
Sunan
Muria:
Sunan Muria adalah anak kepada Dewi
Saroh iaitu adik kandung Sunan Giri yang juga merupakan anak Syekh Maulana
Ishak, dengan Sunan Kalijaga. Nama kecilnya adalah Raden Prawoto. Nama Muria
diambil dari tempat tinggal terakhirnya di lereng Gunung Muria iaitu 18
kilometer ke utara kota Kudus. Gaya berdakwahnya banyak mengambil cara ayahnya
iaitu Sunan Kalijaga. Begitupun, perbezaan dengan ayahnya adalah Sunan Muria
lebih suka tinggal di daerah sangat terpencil dan jauh dari pusat kota untuk
menyebarkan agama Islam. Beliau bergaul dengan rakyat jelata, sambil
mengajarkan cara bercocok tanam, berdagang dan menjadi nelayan adalah
kesukaannya. Sunan Muria seringkali dijadikan pula sebagai orang tengah dalam
sebarang konflik di Kesultanan Demak (1518-1530), Ia sangat dikenali dengan
mempunyai kepribadian yang mampu memecahkan berbagai masalah walaupun ia sangat
rumit. unan Muria berdakwah dari Jepara, Tayu, Juana hingga sekitar Kudus dan
Pati. Salah satu hasil dakwahnya adalah melalui seni iaitu dari lagu Sinom dan
Kinanti .