Monday, May 11, 2015

PENGARUH WALISONGO TERHADAP PERKEMBANGAN BUDAYA INDONESIA

Walisongo (Sembilan Wali) yang dikenal sebagai penyebar agama Islam di tanah Jawa pada abad ke-17. Mereka tinggal di tiga wilayah penting pantai utara Pulau Jawa, yaitu Surabaya-Gresik-Lamongan di Jawa Timur, Demak-Kudus-Muria di Jawa Tengah, dan Cirebon di Jawa Barat. Kawasan ini adalah laluan perjalanan dari Surabaya ke Pati-Demak-Kudus-Malang-Surabaya. Walisongo adalah simbol penyebaran Islam di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Peranan mereka sangat besar dalam mendirikan Kerajaan Islam di Jawa, juga mempengaruhi kebudayaan masyarakat serta dakwah.
Walisongo berarti sembilan orang wali. Mereka adalah:
1. Maulana Malik Ibrahim
2. Sunan Ampel
3. Sunan Giri
4. Sunan Bonang
5. Sunan Dradjad
6. Sunan Kalijaga
7. Sunan Kudus
8. Sunan Muria
9. Sunan Gunung Jati
Kesemua wali ini tidak hidup dalam waktu yang sama tetapi mereka mempunyai kaitan rapat seperti hubungan darah dan juga diantaranya adalah mempunyai hubungan guru dan murid. Maulana Malik Ibrahim adalah yang tertua. Beliau mempunyai anak yang dikenali sebagai Sunan Ampel. Sunan Giri pula adalah anak saudara Maulana Malik Ibrahim yang bererti juga sepupu Sunan Ampel. Sunan Bonang dan Sunan Drajad adalah anak kepada Sunan Ampel. Sunan Kalijaga pula merupakan sahabat dan juga murid Sunan Bonang. Sunan Muria merupakan anak Sunan Kalijaga. Sunan Kudus juga murid kepada Sunan Kalijaga. Sunan Gunung Jati adalah sahabat para Sunan-Sunan yang lain kecuali Maulana Malik Ibrahim yang terlebih dahulu meninggal dunia. Kesemua mereka tinggal di pantai utara Pulau Jawa dari awal abad 15 hingga pertengahan abad 16 iaitu di tiga wilayah penting (Surabaya-Gresik-Lamongan di Jawa Timur, Demak-Kudus-Muria di Jawa Tengah serta Cirebon di Jawa Barat). Mereka adalah para intelektual yang menjadi pembaharu masyarakat pada zamannya. Mereka mengenalkan berbagai bentuk peradaban baru seperti dalam bentuk kesehatan, bercocok tanam, perniagaan, kebudayaan dan kesenian, kemasyarakatan sehingga kepada pemerintahan. Pesantren Ampel Denta dan Giri adalah dua institusi pendidikan paling penting di masa itu. Dari Giri, peradaban Islam berkembang ke seluruh wilayah timur Nusantara. Sunan Giri dan Sunan Gunung Jati bukan hanya ulama tetapi ia juga merupakan pemimpin pemerintahan. Sunan Giri, Bonang, Kalijaga, dan Kudus adalah penyumbang karya seni yang pengaruhnya masih terasa hingga ke hari ini. Sementara Sunan Muria adalah pemimpin agama yang sangat rapat dengan rakyat jelata. Era Walisongo adalah era berakhirnya dominasi Hindu-Budha dalam budaya Nusantara untuk digantikan dengan kebudayaan Islam. Mereka adalah simbol penyebaran Islam di Indonesia terutama di Pulau Jawa. Mereka mempunyai peranan penting seperti Maulana Malik Ibrahim yang menempatkan diri sebagai "tabib" bagi Kerajaan Hindu Majapahit; Sunan Giri yang dianggap oleh kolonialis sebagai "paus dari Timur" serta Sunan Kalijaga telah mencipta karya kesenian dengan menggunakan gaya dan cara yang dapat difahami oleh masyarakat Jawa dengan tidak meninggalkan kebudayaan Hindu dan Budha.
Sejarah walisongo berkaitan dengan penyebaran Dakwah Islamiyah di Tanah Jawa. Sukses gemilang perjuangan para Wali ini tercatat dengan tinta emas.Dengan didukung penuh oleh kesultanan Demak Bintoro, agama Islam kemudian dianut oleh sebagian besar manyarakat Jawa, mulai dari perkotaan, pedesaan, dan  pegunungan.Islam benar-benar menjadi agama yang mengakar. Para wali ini mendirikan masjid, baik sebagai tempat ibadah maupun sebagai tempat mengajarkan agama. Konon, mengajarkan agama di serambi masjid ini, merupakan lembaga pendidikan tertua di Jawa yang sifatnya lebih demokratis. Pada masa awal perkembangan Islam, sistem seperti ini disebut ”gurukula”, yaitu seorang guru menyampaikan ajarannya kepada beberapa murid yang duduk di depannya, sifatnya tidak masal bahkan rahasia seperti yang dilakukan oleh Syekh Siti Jenar. Selain prinsip-prinsip keimanan dalam Islam, ibadah, masalah moral juga diajarkan ilmu-ilmu kanuragan, kekebalan, dan bela diri. Sebenarnya Walisongo adalah nama suatu dewan da’wah atau dewan mubaligh. Apabila ada salah seorang wali tersebut pergi atau wafat maka akan segera diganti oleh walilainnya. Era Walisongo adalah era berakhirnya dominasi Hindu-Budha dalam budaya Nusantara untuk digantikan dengan kebudayaan Islam. Mereka adalah simbol penyebaran Islam di Indonesia. Khususnya di Jawa. Tentu banyak tokoh lain yang juga berperan. Namun peranan mereka yang sangat besar dalam mendirikan Kerajaan Islam di Jawa, juga pengaruhnya terhadap kebudayaan masyarakat secara luas serta dakwah secara langsung, membuat "sembilan wali" ini lebih banyak disebut dibanding yang lain.

Kesembilan wali ini mempunyai peranan yang sangat penting dalam  penyebaran agama Islam di pulau Jawa pada abad ke-15. Adapun peranan walisongo dalam penyebaran agama Islam antara lain: 

  1. Sebagai pelopor penyebarluasan agama Islam kepada masyarakat yang belum banyak mengenl ajaran Islam di daerahnya masing-masing.
  2. Sebagai para pejuang yang gigih dalam membela dan mengembangkan agama Islam di masa hidupnya.
  3. Sebagai orang-orang yang ahli di bidang agama Islam.
  4. Sebagai orang yang dekat dengan Allah SWT karena terus-menerus beribadah kepada-Nya, sehingga memiliki kemampuan yang lebih.
  5. Sebagai pemimpin agama Islam di daerah penyebarannya masing-masing, yang mempunyai jumlah pengikut cukup banyak di kalangan masyarakat Islam.
  6. Sebagai guru agama Islam yang gigih mengajarkan agama Islam kepada  para muridnya.
  7. Sebagai kiai yang menguasai ajaran agama Islam dengan cukup luas.
  8. Sebagai tokoh masyarakat Islam yang disegani pada masa hidupnya. Berkat kepeloporan dan perjuangan wali sembilan itulah, maka agama Islam menyebar ke seluruh pulau Jawa bahkan sampai ke seluruh daerah di Nusantara
Beberapa catatan mengenai kesemua wali ini adalah sebagaimana berikut:
1.       Maulana Malik Ibrahim:
Maulana Malik Ibrahim, atau Makdum Ibrahim As-Samarkandy diperkirakan lahir di Samarkand, Asia Tengah, pada paruh awal abad 14. Beliau meninggal dunia pada tahun 1419. Dikenali juga sebagai Syekh Magribi. "Kakek Bantal" adalah juga sebutan oleh penduduk Jawa. Ia bersaudara dengan Maulana Ishak, ulama terkenal di Samudra Pasai yang juga merupakan ayah dari Sunan Giri (Raden Paku). Ibrahim dan Ishak adalah anak dari seorang ulama Persia bernama Maulana Jumadil Kubro, yang menetap di Samarkand. Maulana Jumadil Kubro diyakini sebagai keturunan ke-10 dari Syayidina Husein iaitu cucu Nabi Muhammad SAW. Selama tiga belas tahun sejak tahun 1379 Maulana Malik Ibrahim pernah bermukim di Campa atau sekarang dikenali Kamboja (Cambodia). Ia mempunyai seorang isteri dari putri raja dan mendapat dua orang anak iaitu Raden Rahmat yang dikenal sebagai Sunan Ampel dan Sayid Ali Murtadha atau Raden Santri. Pada tahun 1392 iaitu setelah merasakan puas berdakwah di Kambodia, Maulana Malik Ibrahim berhijrah ke Pulau Jawa meninggalkan dengan meninggalkan keluarganya. Terdapat beberapa versi yang menyatakan bahwa kedatangannya disertai oleh beberapa orang. Daerah yang dituju bagi pertama kali adalah Desa Sembalo, sebuah daerah yang masih berada dalam wilayah kekuasaan kerajaan Majapahit. Desa Sembalo kini adalah daerah Leran kecamatan Manyar iaitu sejauh 9 kilometer ke utara kota Gresik. Kegiatan pertama yang dilakukannya ketika itu adalah berdagang dengan cara membuka warung. Warung itu menyediakan keperluan harian dengan harga yang murah. Selain itu, beliau juga menyediakan diri untuk mengobati pesakit yang memerlukan bantuan secara percuma. Sebagai seorang tabib, ia pernah diundang untuk mengobati istri raja yang berasal dari Campa. Kemungkinan juga permaisuri tersebut masih bersaudara kepada istrinya. Selain itu, beliau yang juga dikenali sebagai Kakek Bantal telah mengajar cara-cara baru bercocok tanam. Ia merangkul masyarakat bawahan iaitu satu kasta yang disisihkan dalam masyarakat dan budaya Hindu. Misi pertama beliau sangat berjaya untuk mencari tempat di hati masyarakat yang ketika itu dilanda krisis ekonomi dan perang saudara. Sebelum meninggal dunia pada tahun 1419, Maulana Malik Ibrahim sempat mendirikan tempat untuk pembelajaran agama di Leran. Jenazahnya dimakamkan di Desa Gapura, Gresik, Jawa Timur.

2.        Sunan Ampel:
Sunan Ampel adalah anak sulung Maulana Malik Ibrahim. Nama asalnya adalah Raden Rahmat dan dilahirkan di Campa pada 1401 Masehi. Di daerah Ampel atau Ampel Denta, Surabaya (kota Wonokromo sekarang) adalah tempatnya bermukim dan menyibarkan agama Islam. Sunan Ampel datang ke Pulau Jawa pada tahun 1443 bersama adiknya iatu Sayid Ali Murtadho. Sebelum ke Jawa pada tahun 1440, mereka singgah dahulu di Palembang. Setelah tiga tahun di Palembang, mereka melabuh dan berhijrah ke daerah Gresik. Seterusnya mereka ke Majapahit untuk menemui ibu saudaranya, seorang putri dari Campa yang bernama Dwarawati. Ibu saudaranya ini telah dipersunting oleh salah seorang raja Majapahit beragama Hindu bergelar Prabu Sri Kertawijaya. Sunan Ampel menikah dengan putri seorang adipati di Tuban. Dari perkawinannya itu ia dikurniakan beberapa orang anak lelaki dan perempuan. Diantaranya yang menjadi penerus tugas-tugas dakwah adalah Sunan Bonang dan Sunan Drajad. Ketika Kesultanan Demak iaitu 25 kilometer arah selatan kota Kudus hendak didirikan, Sunan Ampel turut bersama mendirikan kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa. Pada tahun 1475, Sunan Ampel telah mengesyurkan supaya Raden Fatah iaitu anak lelaki Prabu Brawijaya V (Raja Majapahit) untuk menjadi Sultan Demak.

Di Ampel Denta, daerah yang dihadiahkan oleh Raja Majapahit, ia membangun dan mengembangkan pondok pesantren. Pada pertengahan Abad 15, pesantren tersebut menjadi pusat pendidikan yang sangat berpengaruh di Nusantara. Di antara para santrinya adalah Sunan Giri dan Raden Fatah. Para santri tersebut kemudian berdakwah ke berbagai pelosok di Pulau Jawa dan Madura. Sunan Ampel menganut fikih mahzab Hanafi. Namun, pada para santrinya, ia hanya memberikan pengajaran sederhana yang menekankan akidah dan ibadah. Beliaulah yang mengenalkan istilah "Moh Limo" iaitu satu istilah dalam bahasa Jawa yang dimaksudkan sebagai "Tidak Mahu Lima Perkara" iaitu moh main (tidak bermain judi), moh ngombe (tidak meminum minuman keras), moh maling (tidak mencuri), moh madat (tidak mengguna dadah dan narkotik) dan moh madon (tidak berzina). Sunan Ampel meninggal dunia dan disemadikan di sebelah barat Masjid Ampel, Surabaya pada tahun 1481.

3.        Sunan Giri:
Sunan Giri lahir di Blambangan pada tahun 1442. Memiliki beberapa nama panggilan iaitu Raden Paku, Prabu Satmata, Sultan Abdul Faqih, Raden 'Ainul Yaqin dan Joko Samudra. Ia dimakamkan di desa Giri, Kebomas, Gresik. Terdapat beberapa silsilah Sunan Giri yang berbeza. Ada pendapat mengatakan ia adalah anak Maulana Ishaq, seorang mubaligh yang datang dari Asia Tengah. Maulana Ishaq diceritakan menikah dengan Dewi Sekardadu, iaitu putri dari Menak Sembuyu, penguasa wilayah Blambangan pada masa-masa akhir kekuasaan Majapahit. Pendapat lainnya menyatakan bahwa Sunan Giri juga merupakan keturunan Rasulullah SAW iaitu melalui keturunan Husain bin Ali, Ali Zainal Abidin, Muhammad al-Baqir, Ja'far ash-Shadiq, Ali al-Uraidhi, Muhammad al-Naqib, Isa ar-Rummi, Ahmad al-Muhajir, Ubaidullah, Alwi Awwal, Muhammad Sahibus Saumiah, Alwi ats-Tsani, Ali Khali' Qasam, Muhammad Shahib Mirbath, Alwi Ammi al-Faqih, Abdul Malik (Ahmad Khan), Abdullah (al-Azhamat) Khan, Ahmad Syah Jalal (Jalaluddin Khan), Jamaluddin Akbar al-Husaini (Maulana Akbar), Maulana Ishaq, dan 'Ainul Yaqin (Sunan Giri). Umumnya pendapat tersebut adalah berdasarkan riwayat pesantren-pesantren Jawa Timur dan catatan nasab Sa'adah BaAlawi Hadramaut. Sunan Giri merupakan anak dari Maulana Ishaq, seorang mubaligh Islam dari Asia Tengah, dengan Dewi Sekardadu, putri Menak Sembuyu penguasa wilayah Blambangan pada masa-masa akhir Majapahit. Namun kelahirannya dianggap telah membawa kutukan berupa wabak penyakit di wilayah tersebut. Ia dipaksa untuk membuang anaknya, Dewi Sekardadu dengan menghanyutkannya ke laut. Kemudiannya, bayi tersebut dijumpai oleh sekelompok awak kapal (pelaut) dan dibawa ke Gresik. Di Gresik, dia diadopsi oleh seorang saudagar perempuan pemilik kapal iaitu Nyai Gede Pinatih dan dinamakan bayi tersebut sebagai Joko Samudra. Ketika dewasa, Joko Samudra dibawa ibunya ke Surabaya untuk belajar agama kepada Sunan Ampel. Apabila Sunan Ampel mengetahui latar belakang murid kesayangannya ini maka ia dihantar kepada Makdhum Ibrahim (Sunan Bonang), untuk mendalami ajaran Islam di Pasai. Mereka diterima oleh Maulana Ishaq yang tidak lain adalah ayah Joko Samudra. Di sinilah, Joko Samudra, yang ternyata bernama Raden Paku, mengetahui asal usul dan alasan mengapa dia dulu dibuang. Setelah tiga tahun berguru kepada ayahnya, Raden Paku atau lebih dikenal dengan Raden 'Ainul Yaqin kembali ke Jawa. Ia kemudian mendirikan sebuah pesantren giri di sebuah perbukitan di desa Sidomukti, Kebomas. Dalam bahasa Jawa, giri berarti gunung. Sejak itulah, ia dikenal masyarakat dengan sebutan Sunan Giri. Pesantren Giri kemudian menjadi terkenal sebagai salah satu pusat penyebaran agama Islam di Jawa, bahkan pengaruhnya sampai ke Madura, Lombok, Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku. Pengaruh Giri terus berkembang sampai menjadi kerajaan kecil yang disebut Giri Kedaton, yang menguasai Gresik dan sekitarnya selama beberapa generasi sampai akhirnya ditumbangkan oleh Sultan Agung.
Terdapat beberapa karya seni tradisional Jawa yang sering dianggap mempunyai hubungkait dengan Sunan Giri, diantaranya adalah permainan-permainan anak seperti Jelungan, Lir-ilir dan Cublak Suweng serta beberapa gending (lagu instrumental Jawa) seperti Asmaradana dan Pucung.

4.       Sunan Bonang:
Beliau adalah anak Sunan Ampel yang juga cucu Maulana Malik Ibrahim. Nama kecilnya adalah Raden Makdum Ibrahim. Dilahirkan pada tahun 1465. Ibunya bernama Nyi Ageng Manila, seorang puteri adipati di Tuban. Sunan Bonang belajar agama dari pesantren ayahnya di Ampel Denta. Setelah dewasa, ia berkelana untuk berdakwah di berbagai pelosok Pulau Jawa. Mula-mula ia berdakwah di Kediri, yang majoriti masyarakatnya beragama Hindu. Di sana ia mendirikan Masjid Sangkal Daha. Ia kemudian menetap di Bonang, di sebuah desa kecil di Lasem, Jawa Tengah sejauh 15 kilometer ke timur kota Rembang. Di desa itu ia membangun tempat pesujudan, zawiyah atau pesantren yang kini dikenali dengan nama Watu Layar. Ia kemudian dikenal pula sebagai imam resmi pertama Kesultanan Demak, bahkan sempat menjadi panglima tertinggi. Meskipun demikian, Sunan Bonang tidak pernah menghentikan kebiasaannya untuk berkelana ke daerah-daerah terpencil dan sukar untuk didakwahkan seperti di Tuban, Pati, Madura dan sehingga ke Pulau Bawean. Pada tahun 1525 beliau meninggal dunia di Pulau Bawean. Jenazahnya dimakamkan di Tuban iaitu di sebelah barat Masjid Agung. Sebelumnya, masyarakat Bawean dan Tuban telah berebutan jenazah. Sunan Bonang tidak seperti Sunan Giri yang memfokuskan fikih, ajaran Sunan Bonang memadukan ajaran ahlussunnah bergaya tassauf dan garis salaf ortodoks. Ia menguasai ilmu fikih, usuludin, tassauf, seni, sastra dan arkitektur. Masyarakat juga mengenal Sunan Bonang sebagai seorang yang mahir mencari sumber air di tempat-tempat gersang. Ajaran Sunan Bonang berintikan pada filsafah 'cinta' ('isyq). Ia sangat mirip dengan kecenderungan Jalalludin Rumi. Mengikut Sunan Bonang, cinta bersama iman, pengetahuan intuitif iaitu makrifat dan kepatuhan kepada Allah SWT atau haq al yaqqin. Ajaran tersebut disampaikannya secara popular melalui media kesenian yang disukai masyarakat. Dalam hal ini, Sunan Bonang bekerjasama dan bersama dengan Sunan Kalijaga iaitu murid kesayangannya. Sunan Bonang banyak melahirkan karya sastra berupa suluk atau tembang tamsil. Salah satunya adalah "Suluk Wijil" yang banyak dipengaruhi kitab Al Shidiq karya Abu Sa'id Al Khayr (wafat pada 899). Suluknya banyak menggunakan tamsil cermin, bangau atau burung laut. Sebuah pendekatan yang juga digunakan oleh Ibnu Arabi, Fariduddin Attar, Rumi serta Hamzah Fansuri. Sunan Bonang juga menggubah gamelan Jawa yang saat itu kental dengan estetika Hindu, dengan memberi gaya dan nafas baru. Dialah yang menjadi pencipta gamelan Jawa seperti sekarang, dengan menambahkan instrumen bonang. Gubahannya ketika itu memiliki dzikir yang mendorong kecintaan pada kehidupan alam malakut. Salah satu karya Sunan Bonang adalah "Tombo Ati". Dalam pentas wayang kulit, Sunan Bonang adalah dalang yang sangat digemari penontonnya. Kegemarannya adalah menggubah lakon dan memasukkan tafsir-tafsir khas Islam. Kisah perseteruan Pandawa-Kurawa ditafsirkan oleh Sunan Bonang sebagai peperangan antara penafian dan 'isbah atau peneguhan iman.

5.       Sunan Drajad:
Sunan Drajat dilahirkan pada tahun 1470. Namanya semasa kecil adalah Raden Qasim, kemudiannya digelar Raden Syarifudin. Dia yang terkenal dengan kecerdasannya adalah anak dari Sunan Ampel dan bersaudara dengan Sunan Bonang. Sunan Drajat mendirikan pesantren Dalem Duwur di desa Drajat, Paciran, Lamongan. Setelah menguasai pelajaran dalam bidang agama islam, beliau menyebarkannya di desa Drajad di kecamatan Paciran. Tempat ini diberikan oleh kerajaan Demak. Ia digelar Sunan Mayang Madu oleh Raden Patah pada tahun 1442/1520 masehi. Makam Sunan Drajat boleh ditemui atau dilawati dari Surabaya ataupun Tuban melalui Jalan Dandeles (Anyer - Panarukan), dan boleh juga melalui Lamongan.

Setelah pelajaran Islam dikuasai, beliau me­ngambil tempat di Desa Drajat wilayah Kecamatan Paciran Kabupaten Daerah Tingkat II Lamongan sebagai pusat kegiatan dakwahnya. Beliau menguasai kerajaan Demak selama 36 tahun. Sebagai Wali penyebar Islam yang terkenal, beliau sangat perihatin dengan rakyat miskin dengan terle­bih dahulu mengusahakan kesejahteraan sosial dan seterusnya memberikan pemahaman tentang ajaran Islam. Motivasinya lebih ditekankan pada etos kerja keras, menderma dan sedekah bagi membenteras kemiskinan dan menciptakan kemakmuran. Usahanya kearah itu menjadi lebih mudah kerana Sunan Drajat memperoleh kekuasaan untuk mengatur wilayahnya yang mempu­nyai otonomi. Sebagai penghargaan atas segala usaha dan kejayaannya menyebarkan agama Islam dan usahanya membasmi kemiskinan dengan menciptakan kehidupan yang makmur bagi warganya, beliau diberi gelaran Sunan Mayang Madu dari Raden Patah, Sultan Demak I pada tahun 1442 atau 1520 Masehi.

6.       Sunan Kalijaga:
Sunan Kalijaga adalah "wali" yang paling banyak disebut oleh masyarakat Jawa. Dilahirkan pada tahun 1450 dari bapanya yang bernama Arya Wilatikta iaitu Adipati Tuban berketurunan dari tokoh pemberontak Majapahit, Ronggolawe. Ketika itu Arya Wilatikta telah menganut agama Islam. Nama semasa kecil Sunan Kalijaga adalah Raden Said. Ia juga memiliki sejumlah nama panggilan seperti Lokajaya, Syekh Malaya, Pangeran Tuban atau Raden Abdurrahman. Terdapat berbagai versi mengenai asal-usul nama Kalijaga yang digunakannya. Masyarakat Cirebon berpendapat bahwa nama itu berasal dari dusun Kalijaga di Cirebon. Sunan Kalijaga memang pernah bermukim di Cirebon dan bersahabat erat dengan Sunan Gunung Jati. Kalangan Jawa mengaitkannya dengan kesukaan wali ini untuk berendam di sungai (kali) atau "jaga kali". Namun ada yang menyebut istilah itu berasal dari bahasa Arab "qadli dzaqa" yang menunjukkan statusnya sebagai "penghulu suci" kesultanan. Semasa hidupnya Sunan Kalijaga mencapai umur lebih dari 100 tahun. Dengan demikian ia mengalami masa akhir kekuasaan Majapahit yang berakhir pada tahun 1478, Kesultanan Demak, Kesultanan Cirebon dan Banten, bahkan juga Kerajaan Pajang yang lahir pada 1546 serta awal kehadiran Kerajaan Mataram dibawah pimpinan Panembahan Senopati. Ia ikut pula merancang pembangunan Masjid Agung Cirebon dan Masjid Agung Demak. Tiang "tatal" (pecahan kayu) yang merupakan salah satu dari tiang utama masjid adalah kreasi Sunan Kalijaga. Dalam dakwah, ia mempunyai pola yang sama dengan Sunan Bonang, mentor yang juga sahabat karibnya. Fahaman keagamaannya cenderung kepada "sufistik salaf" dan bukan sufi panteistik iaitu pemujaan semata. Ia juga memilih kesenian dan kebudayaan sebagai cara untuk berdakwah dan sangat bersesuaian dengan budaya tempatan. Ia berpendapat bahwa masyarakat akan menjauhkan diri jika diserang dengan pendirian dan pegangannya. Maka mereka harus didekati secara beransur-ansur iaitu mengikuti sambil mempengaruhi. Sunan Kalijaga berkeyakinan jika Islam sudah difahami, dengan sendirinya kebiasaan lama akan hilang. Maka ajaran Sunan Kalijaga sangat berkesan. Ia menggunakan seni ukir, wayang, gamelan, serta seni suara suluk sebagai cara berdakwah. Dialah pencipta Baju takwa, perayaan sekatenan, grebeg maulud, Layang Kalimasada, lakon wayang Petruk Jadi Raja. Lanskap pusat kota berupa Kraton dan masjid diyakini sebagai karya Sunan Kalijaga. Cara berdakwah tersebut sangat efektif. Sebagian besar adipati di Jawa memeluk Islam melalui Sunan Kalijaga. Di antaranya adalah Adipati Padanaran, Kartasura, Kebumen, Banyumas, serta Pajang (sekarang dikenali Kotagede Yogya). Jenazah Sunan Kalijaga dimakamkan di Kadilangu iaitu di selatan Demak.

7.       Sunan Gunung Jati:
Sunan Gunong Jati dilahirkan pada tahun 1448. Ibunya adalah Nyai Rara Santang iaitu putri dari raja Pajajaran, Raden Manah Rarasa. Ayahnya pula adalah Sultan Syarif Abdullah Maulana Huda, pembesar Mesir berketurunan Bani Hasyim dari Palestin. Syarif Hidayatullah mendalami ilmu agama sejak berusia 14 tahun dari para ulama Mesir. Ia sempat berkelana ke berbagai negara. Setelah berdirinya Kesultanan Bintoro di Demak, dan atas restu kalangan ulama lain, ia mendirikan Kasultanan Cirebon yang juga dikenal sebagai Kasultanan Pakungwati. Begitupun banyak kisah yang tidak munasabah yang telah dikaitkan dengan Sunan Gunung Jati. Diantaranya adalah bahwa ia pernah mengalami perjalanan spiritual seperti Isra' Mi'raj dan bertemu dengan Rasulullah SAW, bertemu Nabi Khidir dan menerima wasiat Nabi Sulaeman. Semuanya hanya mengisyaratkan kekaguman masyarakat masa itu pada Sunan Gunung Jati. Sunan Gunung Jati adalah satu-satunya "wali songo" yang memimpin pemerintahan. Sunan Gunung Jati menggunakan pengaruhnya sebagai putra Raja Pajajaran untuk menyebarkan agama Islam dari pesisir Cirebon ke pedalaman Pasundan atau Priangan. Dalam berdakwah, ia menganut kecenderungan Timur Tengah. Namun ia juga mendekati rakyat dengan membangunkan infrastruktur seperti jalan-jalan yang menghubungkan antara wilayah. Bersama dengan anaknya yang bernama Maulana Hasanuddin, Sunan Gunung Jati juga melakukan ekspedisi ke Banten. Beliau diterima sebagai bakal Kesultanan Banten. Sebaliknya pada usia 89 tahun, Sunan Gunung Jati mengundurkan diri dari jawatan yang dipegangnya dan hanya ingin meneruskan dakwah sahaja. Kekuasaan itu diserahkannya kepada Pangeran Pasarean. Pada tahun 1568 Sunan Gunung Jati meninggal dunia di Cirebon pada usia 120 tahun. Ia dimakamkan di daerah Gunung Sembung, Gunung Jati, 15 kilometer sebelum memasuki kota Cirebon dari arah barat.
8.       Sunan Kudus:
Namanya senasa kecil adalah Jaffar Shadiq. Beliau adalah anak dari pasangan Sunan Ngudung dan Syarifah iaitu adik Sunan Bonang, anak Nyi Ageng Maloka. Disebutkan bahwa Sunan Ngudung adalah salah seorang putra Sultan di Mesir yang berkelana hingga di Jawa. Di Kesultanan Demak, ia pun diangkat menjadi Panglima Perang. Sunan Kudus banyak berguru pada Sunan Kalijaga. Kemudian ia berkelana ke berbagai daerah tandus di Jawa Tengah seperti Sragen, Simo hingga ke Gunung Kidul. Cara berdakwahnya juga meniru pendekatan Sunan Kalijaga yang sangat toleran pada budaya setempat. Cuma cara penyampaiannya lebih halus. Inilah yang menyebabkan para wali yang lain meminta beliau berdakwah ke Kudus yang dikatakan sangat sukar untuk ditembusi. Gaya dan caraa Sunan Kudus mendekati masyarakat Kudus adalah dengan memanfaatkan simbol-simbol Hindu dan Budha. Hal ini dapat dilihat dari arkituktur masjid Kudus. Bentuk menara, gerbang dan pancuran untuk berwudhu yang melambangkan delapan jalan Budha iaitu satu pendekatan dan kompromi oleh Sunan Kudus. Suatu ketika ia memancing masyarakat untuk pergi ke masjid mendengarkan dakwahnya dengan cara ia sengaja menambatkan lembunya yang diberi nama Kebo Gumarang di halaman masjid. Penganut Hindu sangat mengagungkan lembu, menjadi simpati. Apalagi setelah mereka mendengar penjelasan Sunan Kudus tentang surat Al-Baqarah yang bererti "Lembu Betina". Sehingga kini, sebahagian masyarakat tradisional Kudus, masih menolak untuk menyembelih lembu. Sunan Kudus juga menggubah cerita-cerita ketauhidan. Kisah tersebut disusunnya secara bersiri, sehingga masyarakat tertarik untuk mengikuti kisah selanjutnya. Inilah satu pendekatan yang nampaknya seperti memasukkan cerita 1001 malam dari Khalifah Abbasiyah. Begitulah cara Sunan Kudus mengikat masyarakat. Sebagaimana ayahnya, ia juga pernah menjadi Panglima Perang Kesultanan Demak. Ia ikut sama berperang di Demak diantara Sultan Prawata melawan Adipati Jipang iaitu Arya Penangsang.

9.       Sunan Muria:

Sunan Muria adalah anak kepada Dewi Saroh iaitu adik kandung Sunan Giri yang juga merupakan anak Syekh Maulana Ishak, dengan Sunan Kalijaga. Nama kecilnya adalah Raden Prawoto. Nama Muria diambil dari tempat tinggal terakhirnya di lereng Gunung Muria iaitu 18 kilometer ke utara kota Kudus. Gaya berdakwahnya banyak mengambil cara ayahnya iaitu Sunan Kalijaga. Begitupun, perbezaan dengan ayahnya adalah Sunan Muria lebih suka tinggal di daerah sangat terpencil dan jauh dari pusat kota untuk menyebarkan agama Islam. Beliau bergaul dengan rakyat jelata, sambil mengajarkan cara bercocok tanam, berdagang dan menjadi nelayan adalah kesukaannya. Sunan Muria seringkali dijadikan pula sebagai orang tengah dalam sebarang konflik di Kesultanan Demak (1518-1530), Ia sangat dikenali dengan mempunyai kepribadian yang mampu memecahkan berbagai masalah walaupun ia sangat rumit. unan Muria berdakwah dari Jepara, Tayu, Juana hingga sekitar Kudus dan Pati. Salah satu hasil dakwahnya adalah melalui seni iaitu dari lagu Sinom dan Kinanti .

Friday, April 10, 2015

Ancaman Pudarnya Nasionalisme Warga Perbatasan Yang Mengancaman Keutuhan NKRI di di Pulau Sebatik Indonesia



I.                   PENDAHULUAN
Pulau Sebatik adalah sebuah pulau di sebelah timur laut Kalimantan utara.
Pulau tersebut merupakan pintu perbatasan antara Sabah (Malaysia) dengan Indonesia yang merupakan pintu gerbang Indonesia di Kalimantan, tepatnya di bagian utara Provinsi Kalimantan utara yang berbatasan langsung dengan Negeri Sabah Malaysia. Kota tawau di Sabah yang lebih maju dalam pertumbuhan ekonomi dan infrastruktur mengharuskan warga Sebatik menggantungkan kebutuhan hidupnya terhadap Malaysia yang secara geografis jarak tempuhnya lebih dekat, hanya dibutuhkan waktu sekitar 15 menit dari Sebatik . Di sisi lain, untuk menempuh kota terdekat di Indonesia yaitu kota Nunukan dibutuhkan waktu tempuh sekitar 60 menit hingga 90 menit dari Sebatik.
II.                RUMUSAN MASALAH
Hal terebut pada pendahuluan, secara tidak langsung berdampak terhadap adanya dominasi dan pengaruh Malaysia yang signifikan terhadap warga Pulau Sebatik Indonesia, sebagai berikut :
1.      Fakta Ketergantungan Ekonomi Warga Sebatik terhadap Malaysia;
2.      Ikatan Emosional yang Terbangun Antara Warga Sebatik dan “sebagian” Warga Malaysia di Sabah oleh Kesamaan Kultur;
3.      Dominasi Arus Informasi dari Malaysia;
4.      Ancaman Keutuhan NKRI;


III.             PEMBAHASAN
Pulau Sebatik yang dikenal dengan sebuah pulau di sebelah timur laut Kalimantan utara. Pulau tersebut merupakan pintu perbatasan antara Sabah (Malaysia) dengan Indonesia yang merupakan pintu gerbang Indonesia di Kalimantan, tepatnya di bagian utara Provinsi Kalimantan utara yang berbatasan langsung dengan Negeri Sabah Malaysia. Kota tawau di Sabah yang lebih maju dalam pertumbuhan ekonomi dan infrastruktur mengharuskan warga Sebatik menggantungkan kebutuhan hidupnya terhadap Malaysia yang secara geografis jarak tempuhnya lebih dekat, hanya dibutuhkan waktu sekitar 15 menit dari Sebatik . Di sisi lain, untuk menempuh kota terdekat di Indonesia yaitu kota Nunukan dibutuhkan waktu tempuh sekitar 60 menit hingga 90 menit dari Sebatik. Hal tersebut secara tidak langsung berdampak terhadap adanya dominasi dan pengaruh Malaysia yang signifikan terhadap warga Pulau Sebatik Indonesia, sebagai berikut :
1. Fakta Ketergantungan Ekonomi Warga Sebatik terhadap Malaysia
Kebutuhan Sandang, pangan dan papan masyarakat Sebatik bisa dikatakan hampir 80% didatangkan dari Kota Tawau, begitupun untuk menjual hasil mata pencaharian masyarakat Sebatik seperti biji kakau, kelapa sawit dan ikan, warga sebatik akan berhubungan dengan kota Tawau, sabah Malaysia untuk menjual hasil mata pencaharian mereka. Letak geografis wilayah Kota Tawau dari Sebatik dengan jarak yang lebih dekat daripada wilayah kota yang ada di Indonesia, seperti Kota Nunukan dan Kota Tarakan yang harus ditempuh dalam waktu 1 jam hingga 3 jam, maka untuk pergi ke kota tawau hanya membutuhkan waktu kurang lebih 15 menit dengan speed boat dan kurang dari 30 menit bila ditempuh dengan perahu bermesin biasa, sehingga biaya transportasi menuju ke Kota Tawau, Malaysia lebih murah dan efektif secara waktu. Jadi, Malaysia secara ekonomi telah membantu roda perekonomian bagi warga Sebatik untuk dapat hidup dan memenuhi kebutuhan sehari-hari.
2. Ikatan Emosional yang Terbangun Antara Warga Sebatik dan “sebagian” Warga Malaysia di Sabah oleh Kesamaan Kultur
Interaksi sosial dan kultur antara masyarakat sebatik dan masyarakat kota tawau pun kerap terjadi. Hal ini terjadi karena banyak keluarga dari warga Sebatik yang secara kultur mayoritas merupakan suku bugis yang berasal dari Sulawesi selatan berdomisili di kota Tawau dalam waktu yang lama, bahkan sebagian di antaranya sudah berstatus sebagai warga Negara Malaysia. Suku bugis secara statistik memiliki jumlah yang besar dan diperhitungkan secara populasi di wilayah tawau yang berpopulasi kurang lebih 500.000 jiwa. Proses yang terus berlangsung ini secara tidak langsung telah menumbuhkan ikatan emosional yang erat antar keluarga yang pada akhirnya berubah menjadi ikatan emosional antara warga Negara di dua Negara yang berbeda sehingga perbedaan nationality lambat laun terkikis sedikit demi sedikit.
3. Dominasi Arus Informasi dari Malaysia
Pada umumnya, informasi yang diperoleh warga Sebatik berasal dari Malaysia karena mudahnya akses untuk mendapatkan informasi dari Malaysia, misalnya melalui tiga saluran TV Malaysia yang secara langsung dapat dijangkau tanpa harus menggunakan alat bantuan seperti Parabola atau Televisi (TV) kabel, sedangkan untuk saluran TV Indonesia dibutuhkan alat bantu tersebut sehingga membutuhkan tarif berbayar yang tidak dapat dinikmati oleh semua kalangan di Sebatik. Program TV di Malaysia yang berisi program-program acara resmi, terutama pada chanel TV 1 dan TV 3 sangat efektif dalam menambah wawasan dan informasi kebangsaan masyarakat sebatik tentang Malaysia. Begitupun dengan radio, siaran radio dari Malaysia yang bergelombang jauh, misalnya radio nasional Malaysia yang mengudara di Kuala Lumpur dengan mudahnya masuk dan mendominasi siaran radio di Sebatik. Mengutip kembali Azwar (2005: 14), “….sebagai sarana komunikasi, berbagai media massa seperti televisi, radio, mempunyai pengaruh besar dalam pembentukan opini dan kepercayaan orang. Adanya informasi baru mengenai sesuatu hal memberikan landasan kognitif baru bagi terbentuknya sikap terhadap hal tersebut. Pesan-pesan sugestif yang dibawa informasi tersebut, apabila cukup kuat, akan memberi dasar afektif dalam mempersepsikan dan menilai sesuatu hal sehingga terbentuklah arah sikap tertentu”. Dan hal ini lambat laun telah membangun stigma positif warga Sebatik terhadap Malaysia dan membentuk sikap pro Malaysia.


4. Ancaman Keutuhan NKRI
Fakta ketergantungan ekonomi warga Sebatik terhadap Malaysia, ikatan emosional yang terbangun antara warga Sebatik dan warga Malaysia di kota tawau dan dominasi arus informasi dari Malaysia yang secara terus menerus dan dalam jangka yang panjang menjadi sebuah ancaman nirmiliter dalam konsepsi pertahanan Indonesia di masa yang akan datang, hal ini secara nyata akan memancing bibit-bibit separatisme di kalangan warga dan akan membentuk sikap loyalitas dan kecintaan warga terhadap Malaysia atau dengan kata lain bernasionalisme Malaysia. Terkait faktor-faktor pembentukan sikap tersebut, mengutip Azwar (2005: 14), menyatakan bahwa, “… individu bersikap konformis atau searah dengan sikap orang orang yang dianggapnya penting. Kecenderungan ini antara lain dimotivasi oleh keinginan untuk berafiliasi dan keinginan untuk menghindari konflik dengan orang yang dianggap penting tersebut”. Pada akhirnya pada titik klimaksnya nanti akan muncul keinginan dari warga untuk melepaskan diri dari wilayah NKRI dan memilih untuk menggabungkan diri (integrasi) atau melakukan eksodus ke Malaysia karena merasa telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dan menjadi bagian dari Malaysia. Hal ini sejalan dengan pendapat Dhurorudin Mash’ad (2004: 6) yang menyatakan bahwa, “Nasionalisme (rasa kebangsaan) yakni setiap orang merasa sebagai bagian integral bangsa. Dengan rasa kebangsaan, setiap diri akan merasa sebagai bagian dari bangsa dan merasa bangga dengan statusnya itu”.
Berangkat dari ancaman di atas, Sebagaimana yang telah terjadi sebelumnya di Kabupaten mahakam ulu, kalimantan Timur yang warga dari 10 desa mengancam untuk bergabung dengan Malaysia bergitupun halnya dengan warga 3 desa di nunukan, kalimantan utara yang warganya pun telah melakukan eksodus dan perpindahan kewarganegaraan Malaysia, maka dibutuhkan sebuah perhatian & penanganan khusus dan serius dari pemerintah pusat dan pemerintah daerah untuk mengantisipasi ancaman tersebut lewat pendekatan kesejahteraan (prosperity Approach) dan pemenuhan kebutuhan terhadap warga di daerah perbatasan. Pendekatan Kesejahteraan dan pemenuhan kebutuhan warga secara komprehensip dengan dibarengi dengan pembangunan infrastruktur dan sarana roda ekonomi secara mandiri tanpa ketergantungan terhadap Malaysia di perbatasan akan dapat menghambat laju hegemoni dan dominasi Malaysia, sehingga terjadinya sebuah nationality building terhadap warga perbatasan berupa kecintaan, kebanggaan, dan rasa satu kesatuan sebagai bagian dari NKRI dan mereka pun dapat dengan lantang dan tegas menyatakan bahwa NKRI harga mati.

IV.             KESIMPULAN
Dimanapun dan bagaimanapun kita sebagai warga Negara Indonesia, haruslah kita menjaga wilayah dan kekayaan tanah air Indonesia, artinya menjaga seluruh kekayaan alam yang terkandung di dalamnya. Seperti warga di Pulau Sebatik, semangat kebersamaan yang tumbuh di masyarakat perbatasan itu merupakan roh yang menumbuhkan rasa persatuan dan kesatuan yang selalu siap menjaga dan mengamankan kedaulatan NKRI. Seperti yang terpampang di tugu perbatasan Garuda Perkasa yang berdiri kokoh di Pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, “NKRI Harga Mati”.

Saturday, January 31, 2015

TUGAS 3 PENGANTAR TELEMATIKA

Nama :  Widiavita Ravmahita    
NPM   :  1A113816
Kelas  :  4KA28

  1. Karena semakin mudahnya layanan akses telematika tersebut, banyak yang memanfaatkan celah keamanan di layanan tersebut untuk keperluan pribadi atau kelompok.
Maka faktor - faktor yang menyebabkan penyalahgunaan layanan telematika adalah :
a. SDM, Sumber Daya Manusia yang memungkin untuk mengekploitas layanan telematika tersebut untuk kepentingan pribadi atau kelompok.
Hal ini dipengaruhi oleh lingkungan sekitar, pergaulan, konten yang diakses, keperluan hidup dll. beberapa orang menganggap kegiatan seperti ini menjadi suatu kepuasan tersendiri bila berhasil melakukan hal tersebut.
b. Peranan Orang Tua, Orang tua disini berlaku untuk pengguna dibawah umur atau remaja yang masih dalam pengawasan orang tua dalam mengakses konten digital dari layanan telematika. Bila peranan orang tua kurang maka penyalahgunaan layanan telematika dari user tersebut sangat terbuka.
c. Faktor Kepentingan Pribadi / Kelompok. dapat dilihat dari kasus penyerangan Server SONY yang di retas oleh Oknum Hacker yang mengatasnamakan GOP dan mengambil berbagai file internal di dalam Server Sony tersebut dan mempublikasikannya.

2.    Cara untuk mengurangi penyalahgunaan fasilitas layanan Telematika yaitu :
a. Dengan melakukan pembatasan Konten yang dapat diakses pengguna
b.  Memberikan peningkatan pengawasan Konten layanan Telematika
c.   Melakukan peningkatan security Konten layanan
d.  Memberikan penjelasan tentang pendidikan Konten layanan telematika

  1. Dampak yang terjadi dari penyalahgunaan fasilitas layanan telematika adalah :
    a.  Layanan telematika menjadi lebih lambat
b.  Kerusakan infrastruktur dari penyedia layanan
c.   Kerusakan data yang bersifat Private
d.  Kerahasiaan pengguna terganggu

Saturday, November 15, 2014

TUGAS 2 PENGANTAR TELEMATIKA



Nama  :   Widiavita Ravmahita          
NPM    :  1A113816
Kelas   :  4KA28

1.      Manfaat dari jaringan komputer sangat banyak, seperti :
·    E-Government (administrasi pemerintahan secara elektronik) : penggunaan teknologi informasi yang dapat meningkatkan hubungan antara Pemerintah dan pihak-pihak lain. Contoh nyata dari program e-government ini adalah adanya badan khusus yang mengurus hal – hal berkaitan dengan telematika yaitu Tim Koordinasi Telematika Indonesi (TKTI). Tim ini bertugas untuk mengkoordinasikan perencanaan dan mempelopori kegiatan dalam rangka meningkatkan perkembangan dan pendayagunaan telematika di Indonesia;
·       E-commerce (transaksi jual beli secara elektronik) merupakan suatu proses pembelian, penjualan, mentransfer, atau pertukaran produk, jasa, atau informasi melalui jaringan komputer termasuk internet;
·   E-learning (pendidikan terbuka dengan metode jarak jauh) merupakan contoh dari berkembangnya dunia pendidikan dari cara konvensional (tatap muka di kelas) ke cara yang lebih terbuka melalui internet. Hal ini dapat terjadi karena adanya teknologi telematika yang dapat menghubungkan pengajar dengan muridnya. Sedangkan diluar itu masih banyak lagi, seperti GPS ( Global Positioning System ), kompas digital, sistem navigasi dan lain sebagainya.

Sedangkan dampak negatif dari jaringan computer adalah :
·         Peningkatan biaya untuk membangun jaringan.
Ketika jaringan dalam sebuah perusahaan akan dibuat, diperlukan sejumlah anggaran tertentu, baik untuk konsultasi perencanaan, jasa pembangunan jaringan, dan juga pemeliharaan hardware dan software. Sedangkan bagi pengguna rumahan, biaya yang dibutuhkan relatif lebih sedikit.
·         Virus dan Hacking.
Keduanya telah menjadi momok bagi administrator jaringan,karena jaringan bisa down dan pekerjaan menjadi berhenti.

2. Contoh aplikasi-aplikasi yang berkembang yang memanfaatkan jaringan komputer khususnya internet dalam telematika banyak sekali ditemukan seperti : Facebook, twitter, Instagram, Path, lalu aplikasi chat melalui smartphone (Line, Whatsapp, dll), serta aplikasi e-banking juga e-ticketing untuk pembelian tiket transportasi umum.

3.   Faktor yang mendasari perkembangan telematika di Indonesia semakin meningkat adalah Dukungan sarana dan prasarana & Infrastruktur di Indonesia yang masih kurang sehingga jaringan internet masih terbilang mahal disbanding dengan negara lain. Setelah adanya internet, semakin meningkatkan perkembangan telematika dan semakin beragam kebutuhan pengguna. Tantangan sekarang ini adalah agar seluruh daerah di Indonesia tercakup layanan internet cepat karena bagaimanapun juga pada akhirnya aplikasi apapun dan layanan apapun yang tercipta dalam telematika berangkat dari kebutuhan pengguna. Semua pengguna ingin informasi yang mudah didapat, serba cepat, layanan lengkap dan handal untuk memenuhi kebutuhan.